Terasering Panyaweuyan di Majalengka Mirip Bukit Teletubbies

Reporter  : Rakisa (Kontributor Majalengka)
Editor       : Tangguh Sipria Riang

RANSELPRO.COM, Majalengka – Wisata alam ala Bukit Teletubbies, tidak hanya ada di Ubud, Bali atau Bromo, Jawa Timur. Kini, opsi lain Bukit Teletubbies wajib kunjung wisatawan adalah terasering Panyaweuyan.

Yuk, simak keunikan objek wisata di Desa Tejamulya, Kecamatan Argapura, Majalengka, Jawa Barat (Jabar) ini seperti dikutip dari RagamPost.com.

1. Kebun Petani
Siapa sangka, Bukit Teletubbies Panyaweuyan ini sebetulnya perkebunan petani? Letak geografis di lereng Gunung Ciremai, membentuk Kecamatan Argapura menjadi perbukitan terjal. Dengan altitude variatif, Panyaweuyan berada di ketinggian 400-2000 meter dari permukaan laut (mdpl). Sejuk, khas pengunungan.

Ada tiga kelompok petani dari tiga desa. Yakni, Sukasari Kaler, Sukasari Kidul, dan Tejamulya. Mereka memaksimalkan sengkedan 40 derajat tersebut untuk berkebun dan bertani. Hasil pangannya? Bawang merah, bawang daun, ubi jalar, hingga padi. Minat borongan sayur mayur? Langsung aja nego ke petaninya ya.

Aktivitas petani di perkebunan Panyaweuyan. (RANSELPRO.com/Rakisa)

2. Dwi Warna
Ada dua warna hamparan Bukit Teletubbies yang disuguhkan secara alami di terasering Panyaweuyan. Hijau dan kuning. Beda musim, beda warna. “Kalau hijau biasanya di musim penghujan. Warna kuning saat kemarau,” ungkap salah satu warga setempat, Tias.

Sudut pandang lain tentu saja sisi humanis petani. Aktivitas petani di ladang tak luput jadi objek para pemotret. “Meski ramai pengunjung, aktivitas bercocok tanam petani tidak terganggu,” tambah Tias.

Kondisi perkebunan Panyaweuyan saat musim kemarau. (RANSELPRO.com/Rakisa)

3. Tiket Terjangkau
Tak hanya petani, warga sekitar pun bisa “panen” di terasering Panyaweuyan. Apalagi, sejak objek wisata ini populer via media sosial akhir 2017 lalu. Khususnya, pemasukan dari tiket masuk dan parkir kendaraan pengunjung.

Tapi, jangan khawatir. Tiketnya tergolong ekonomis dan terjangkau. Totalnya, pengunjung hanya perlu merogoh kocek berkisar Rp 7-10 ribu sekali masuk. Rinciannya, tiket masuk Rp 5000 per orang. Biaya parkir, roda dua Rp 2000 dan kendaraan roda empat Rp 5000.

“Diharapkan, wisata alam ini akan semakin populer dan menarik minat wisatawan ke lokasi tersebut. Selain itu, secara otomatis akan mendongkrak perekonomian di wilayah tersebut,” kata Kepala Dinas Bina Marga dan Cipta Karya (BMCK) Majalengka, Eman Suherman dalam keterangan tertulisnya, Jumat (21/12/2018).

Salah satu titik pemotretan favorit di terasering Panyaweuyan. (RANSELPRO.com/Rakisa)

4. Akhir Pekan
Terasering Panyaweuyan kerap ramai saat akhir pekan. Mulai dari pengunjung lokal, nasional hingga internasional. Mereka kerap membawa perangkat digital dengan fitur kamera dan video. Bahkan, ada juga yang dilengkapi tripod dan drone.

Tone warna terasering jadi pemikat pecinta fotografi. Apalagi, pengunjung dapat mendaki bukit (trekking) ke puncak terasering demi spot terbaik. Dari sana, pengunjung dapat “melukis cahaya” dari visual kontur perbukitan yang mengelilingi Majalengka.

Gowes sepeda juga dapat dilakukan di area perkebunan Panyaweuyan. (NET)

5. Golden Hour
Dalam fotografi dikenal dengan istilah Golden Hour. Tepatnya, sebelum dan sesudah matahari terbit (Sunrise) dan matahari terbenam (Sunset). Kira-kira pukul 05.00-06.00 WIB dan pukul 17.30-18.30 WIB. Rentang waktu untuk kualitas cahaya terbaik fotografi luar ruangan.

Cahaya matahari saat waktu tersebut, akan menjadikan bentang alam lebih magis. Termasuk warna langit terlihat lebih dramatis. Jadi, jangan malas bangun pagi. Get your gear and let’s snap. It’s hunting time.

Pengunjung mengabadikan terasering Panyaweuyan. (NET)

6. Jalur Desa
Status ladang dan area pedesaan, membuat akses jalan di Panyaweuyan masih kurang memadai. Jalanan sempit masih jadi kendala bagi sebagian pengunjung. Khususnya, pengendara roda empat. Alternatif lain? Idealnya menggunakan sepeda motor atau bergowes ria dengan sepeda.

Akses jalan dan lampu penerangan saat gelap, jadi perhatian pemerintah Provinsi (Pemprov) Jabar. Mereka menyiapkan anggaran sebesar Rp 40 miliar untuk menata kawasan wisata Panyaweuyan tahun 2019. “Terutama untuk insfrastruktur jalan,” ungkap Eman Suherman selaku Kepala Dinas BMCK Majalengka.

Sebelumnya, Pemkab Majalengka sudah memperbaiki kondisi jalan rusak menuju kawasan wisata Panyaweuyan, akhir tahun 2017 lalu. Perbaikan sepanjang 4 kilometer itu memakan anggaran Rp 1 miliar lebih dari Dana Alokasi Umum (DAU).

Penampakan aerial ruas jalan di perkebunan Panyaweuyan. (RANSELPRO.com/Rakisa)

7. Objek Wisata Unggulan
Potensi peningkatan kepadatan arus orang dan barang menjadi perhatian Pemda Majalengka. Khususnya, setelah Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) di Kertajati mulai dioperasikan.

Pemda setempat juga menyiapkan anggaran guna menunjang dan mendorong kawasan wisata Panyaweuyan. Pasalnya, daya tarik wisata alam Bukit Teletubbies Panyaweuyan, diproyeksi sebagai magnet wisatawan baru di Majalengka.

“Harapan kami akan berdampak kepada kunjungan wisata unggulan di Kabupaten Majalengka. Salah satunya, objek wisata Panyaweuyan di Kecamatan Argapura,” demikian Eman.

Gradasi perbukitan di area perkebunan Panyaweuyan. (RANSELPRO.com/Rakisa)

8. Rute ke Panyaweuyan
Ada dua opsi untuk menjangkau Panyaweuyan. Pertama, jika datang dari kota Cirebon dapat melewati bundaran Cigasong-Maja-Terminal Maja. Ikuti jalan arah Argalingga. Kemudian, tiba di pertigaan Sadasari-Sukasari belok kanan menuju Teja Permana atau Cibunut-Cibuluh.

Cara kedua? Khususnya dari arah Selatan Jabar dapat mengakses jalur via Ciamis. Cari jalan R.A. Kusumadiningrat arah Jl. Nasional III. Setelah itu pilih Jl. Raya Kawali-Panjalu dan Jl. Cikijing-Panjalu, Jl. Nanggeleng-Cirahayu. Jika benar, nanti akan ketemu Jalan Desa Banjaransari.

Sudut pandang lain di area perkebunan Panyaweuyan. (RANSELPRO.com/Rakisa)

Bagaimana jika lewat jalur Bandung? Tenang, Jl. Tol Purbaleunyi adalah opsi terbaik. Tempuh melalui Jl. Tol Cipali menuju Jalan Kertajati–Kadipaten atau Jl. Jatibarang–Kadipaten wilayah Majalengka. Ingat, keluar menuju Kertajati dari Jl. Tol Cipali dan kearah Cigasong. Selanjutnya, ikuti saja rute dari Cirebon. [tsr]

IG @goeharound

Tangguh Sipria Riang

IG @goeharound

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *